Puji syukur penyusun panjatkan
kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penyusun dapat menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Lapang Tahun Pelajaran
2013/2014 tepat pada waktunya.
Dengan tersusunnya Laporan Praktik
Kerja Lapang ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
- Bapak ..............
selaku kepala Kepala Sekolah SMK Negeri Cilebar
- Bapak
.............. selaku pembimbing di BLUPPB - Karawang
- Serta
semua pihak yang telah membantu penyusun menyelesaikan Laporan PKL ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam
penyusunan laporan ini masih ada bahkan terdapat kekurangan, oleh karena itu
penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi
kesempurnaan laporan ini.
Cilebar, Juni 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN............................. i
KATA PENGANTAR..................................... ii
DAFTAR ISI................................................ iii
DAFTAR TABEL......................................... v
DAFTAR GAMBAR.................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN.................................... vii
BAB I. PENDAHULUAN............................. 1
A. Latar
Belakang..................................... 1
B. Tujuan
dan Manfaat.............................. 2
BAB II. PERSIAPAN...................................... 3
A. Rencana
Kegiatan............................ 3
B. Jadwal
Kegiatan............................. 4
C. Potensi
Wilayah............................. 4
BAB III. PELAKSANAAN................................ 6
A. Waktu
dan Tempat............................ 6
B. Keadaan
Lokasi ................................ 6
C. Kegiatan-Kegiatan............................. 7
D. Analisa
Usaha......................................... 14
BAB VI. MASALAH DAN PEMECAHAN........... 24
A. Masalah................................................ 24
B. Pemecahan........................................... 24
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ................... 25
A. Kesimpulan ............................................ 25
B. Saran ........................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA.............................................. 27
LAMPIRAN ............................................. 28
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1 Kegiatan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya 4
2 Biaya investasi di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya 14
3 Nilai penyusutan bangunan
dan alat tahan lama 16
4 Bunga modal bangunan dan
alat tahan lama 18
5 Biaya penyusutan alat tahan
lama 19
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1 Pemanenan nauplius 11
2 Pengendalian hama dan
penyakit 13
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1 Siklus hidup udang windu 29
2 Kegiatan persiapan 30
3 Kegiatan ablasi dan
pengadukan telur 31
4 Pengendalian hama dan
penyakit 32
5 Penebaran nauplius 33
6 Gedung pemeliharaan larva 34
7 Pemanenan Skeletonema
costatum 35
8 Pakan buatan 36
9 Kegiatan panen 37
10 Kegiatan pasca panen 38
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Udang windu merupakan salah satu
jenis udang yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan merupakan
komoditas ekspor andalan pemerintah. Konsekuensi dari peningkatan tersebut
adalah semakin tingginya kebutuhan benur yang berkualitas baik.
Dalam usaha perikanan untuk memenuhi
pasar dunia akan ketersediaan udang windu, para pengusaha pembenihan memulai
kegiatan dari pembenihan, pembesaran, pemanenan hingga pemasaran larva udang
windu. Salah satu usaha yang menentukan keberhasilan produksi udang windu yakni
usaha pembenihan. Usaha pembenihan adalah usaha yang menyediakan benih yang
berkualitas baik untuk dibesarkan dan memberikan harapan untuk dikembangkan
sekaligus peluang kerja yang lebih luas. Hal ini tidak saja disebabkan oleh
teknologi yang dikuasai sepenuhnya, akan tetapi bagian-bagian dalam siklus
pembenihan udang skala perusahaan sudah menggunakan teknologi yang berkembang
hingga saat ini.
Unit usaha pembenihan yang ada harus
melakukan pembenahan agar dapat memenuhi standar kualitas akan kebutuhan bagi
para petani tambak. Untuk menjadi tenaga kerja yang berkualitas siswa SUPM
Negeri Bone melakukan praktik kerja lapang di unit usaha perikanan milik
pemerintah maupun swasta. Siswa PKL yang melakukan pembelajaran dan praktik di
lapangan tentang teknik pembenihan udang dari tahap persiapan sampai pemanenan.
Tujuan
dan Manfaat
Tujuan dilaksanakannya PKL adalah :
- Mengikuti
kegiatan secara langsung teknik pembenihan udang windu di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya.
- Mendapatkan
data teknis dan finansial tentang kegiatan usaha pembenihan udang windu.
- Mempelajari
lebih detail teknik pembenihan udang windu.
Manfaat dilaksanakannya praktik
kerja lapang adalah :
- Memperoleh
ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang perikanan tentang pembenihan udang
windu.
- Mengetahui
teknis analisa usaha pembenihan udang windu.
BAB II
PERSIAPAN
Rencana
Kegiatan
Rencana kegiatan yang dilakukan
penyusun selama melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya
adalah sebagai berikut :
- Persiapan
bak
- Pemasangan
sistem aerasi
- Pengisian
air
- Pengadaan
induk
- Seleksi
induk
- Penanganan
dan perawatan induk
- Ablasi
induk
- Pemeriksaan
ovary.
- Peneluran
- Penetasan
telur
- Pemanenan
nauplius
- Manajemen
pakan
- Manajemen
kualitas air
- Pengendalian
hama dan penyakit
- Kegiatan
panen
- Kegiatan
pasca panen
- Pemasaran
- Jadwal
Kegiatan
Adapun jadwal kegiatan yang
dilakukan penyusun selama melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) pada unit
pembenihan udang windu (Penaeus monodon, Fabr.) di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Kabupaten Karawang.
Tabel 1. Kegiatan di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya
No Kegiatan Tahun 2014
Februari Maret
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan
bak x
2 Pemasangan
sistem aerasi x
3 Pengisian
air x x x
4 Pengadaan
Induk x
5 Seleksi
Induk x x x
6 Penanganan
dan perawatan induk x x x
7 Ablasi
Induk x
8 Pemeriksaan
ovary x x x
9 Peneluran x x x
10 Penetasan
telur x x x
11 Pemanenan
naupli x x x
12 Manajemen
pakan x x x x
13 Manajemen
kualitas air x x x x
14 Pengendalian
hama dan penyakit x x
15 Kegiatan
panen x x
16 Kegiatan
pasca panen x x
17 Pemasaran x x
Potensi
Wilayah
Lokasi PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya sebagai
unit pembenihan udang windu (Panaeus monodon, Fabr.) cukup strategis jika
ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya:
Keadaan PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya sebagai
unit pembenihan disambut baik oleh masyarakat setempat karena tidak
bertentangan dengan adat istiadat dan memberikan keuntungan bagi masyarakat,
umumnya di bidang perikanan dan petani tambak pada khususnya.
Petani tambak dan pengusaha
penggelondongan tidak kesulitan dalam memperoleh benur yang berkualitas dan
dalam jumlah yang banyak di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya.
Adapun
aspek teknis yang mendukung usaha pembenihan di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya adalah:
- Dekat
dengan pantai, sehingga mudah memperoleh air laut.
Kualitas
air laut yang digunakan memenuhi syarat sebagi berikut :
- Salinitas
air laut berkisar antara 27 - 32 ppt.
- Lokasi
jauh dari pencemaran, baik pabrik dan industri lainnya yang membuang limbah ke
perairan.
- Tersedia
tenaga listrik yang menyalurkan arus menerus selama 24 jam.
BAB III
PELAKSANAAN
Waktu
dan Tempat
Praktik Kerja Lapang dilaksanakan
pada tanggal 21 April – 22 Juni 2014 bertempat di Kecamatan Cilebar
- Kabupaten Karawang - Provinsi Jawa Barat.
Keadaan
Lokasi
Keadaan lokasi dalam suatu daerah
berpengaruh terhadap suatu unit pembenihan udang windu. Adapun keadaan lokasi
PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya :
- Topografi
Lokasi : PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya terletak di daerah
Desa Pusakajaya Utara - Kecamatan Cilebar dan berada dekat dengan pantai.
- Vegetasi : Di dalam lokasi PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya
tumbuh berbagai jenis tanaman, seperti : kelapa, ubi kayu, jambu, dan berbagai
jenis tanaman lainnya.
- Hidrologi : Perolehan air tawar untuk keperluan
sehari-hari berasal dari sumur bor yang terletak di dalam Hatchery PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya.
Kegiatan-Kegiatan
Kegiatan-kegiatan di Hatchery PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya, antara lain :
Persiapan
Bak
Persiapan bak pemeliharaan induk
memegang peranan penting di dalam usaha pembenihan udang windu. Sebelum bak
digunakan, dilakukan pengeringan dan pembersihan terlebih dahulu. Kotoran yang
menempel di dinding disikat menggunakan detergen yang dilarutkan dalam air.
Setelah itu dibilas dengan air dan bak dikeringkan selama 3 – 4 hari.
Pemasangan
Sistem Aerasi
Penularan penyakit biasa terjadi
melalui media peralatan yang terkontaminasi dengan bakteri atau parasit, oleh
sebab itu sebelum digunakan semua peralatan harus disterilkan dengan cara
menggosok menggunakan detergen lalu dibilas dengan air tawar dan dikeringkan
selama 3 – 4 hari.
Setelah pengeringan dan penjemuran
dikerjakan maka selanjutnya adalah pemasangan spuyer aerasi, selang aerasi,
pemberat serta batu aerasi pada bak pemeliharaan larva.
Pemasangan instalansi aerasi ini
dilakukan sebagai penyuplai oksigen dalam air saat pemeliharaan berlanjut.
Dissolved oxygen yang optimum sangatlah penting dalam pemeliharaan larva
udang windu agar dapat mempercepat laju pertumbuhan udang, setelah pemasangan
aerasi selesai, bak siap untuk diisi air untuk media pemeliharaan larva.
Pengisian
Air
Setelah air media sudah disterilkan
maka tahap selanjutnya adalah pengisian air ke dalam bak pemeliharaan setinggi
110 cm, air yang sudah dimasukkan ke dalam sudah disaring menggunakan filter
bag. Kualitas air yang digunakan untuk usaha pembenihan udang windu harus baik,
terbebas dari polusi, endapan logam berat serta mempunyai kandungan bahan
organik yang cukup rendah. Penyaringan air menggunakan filter bag dan kapas.
Penyaluran air media dari bak penampungan ke bak pemeliharaan larva ini
menggunakan instalansi pipa ukuran 1,5 inchi dengan menggunakan pompa celup.
Setelah media air selesai dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan aerasi
dinyalakan dalam tekanan rendah.
Pengadaan
Induk
Pengadaan induk udang windu yang ada
di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya adalah induk yang berasal dari perairan Aceh, karena
mempunyai kualitas yang terbaik diantara induk yang ada di daerah peraiaran
lainnya.
Seleksi
Induk
Seleksi Induk dilakukan untuk
mengetahui induk yang masih hidup dan yang mati pada saat perjalanan. Induk
yang hidup selanjutnya dilakukan penanganan dan perawatan lebih lanjut.
Penanganan
dan Perawatan Induk
Setelah induk tiba
di lokasi, maka dilakukan penanganan induk dengan cara
aklimatisasi. Aklimatisasi adalah kegiatan
penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru,
yang bertujuan agar induk yang baru
datang dapat beradaptasi, sehingga terhindar
dari stress akibat lingkungan yang baru.
Perawatan induk yang baik untuk menjaga
kestabilan dan kesehatan induk, agar dapat menghasilkan
telur yang memiliki kualitas dan kuantitas
yang baik.
Ablasi
Induk
Ablasi merupakan teknik rangsangan
buatan pada induk betina udang windu. Perinsip dari ablasi ini adalah untuk
organ yang menghambat perkembangan gonad yang terdapat pada salah satu tangkai
mata betina, cara ablasi ini diterapkan di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya yaitu dengan
mengikat salah satu tangkai mata dengan karet gelang yang sudah disiapkan.
Pemeriksaan
Ovary.
Kegiatan ini dilakukan
untuk memastikan bahwa induk telah mencapai
masa/waktu untuk bertelur. Pemeriksaan ovary dilakukan
setelah kegiatan pengablasian, yaitu dilaksanakan
pada saat sore hari tepatnya pada
saat kegiatan sirkulasi dan seterusnya
setiap hari. Pemeriksaan dilakukan satu persatu,
kematangan gonad pada induk udang betina
dapat dilihat dari perkembangan ovarynya
yang terletak pada bagian punggung dan
berwarna coklat atau coklat gelap sesuai
dengan tingkat kematangan gonad.
Peneluran
Induk betina akan
bertelur pada malam hari biasanya akan tampak
berenang gelisah di permukaan air, induk
yang telah melepaskan telurnya segera
diangkat keluar menggunakan seser, guna
untuk menghindari agar induk tidak memakan
telurnya.
Penetasan
Telur
Telur Udang Windu
akan menetas setelah 13 jam, agar
telur tidak mengendap maka dilakukan
pengadukan telur setiap 1 jam. Suhunya
dijaga agar tetap stabil yaitu 30ºC
maka digunakan pemanas (Heater) pada bak
peneluran. Untuk mengetahui telurnya sudah
menetas, maka dilakukan pengamatan yang
ditandai dengan adanya nauplius yang
berenang di dalam bak. Setelah satu
malam, nauplius dipindahkan ke bak
pemeliharaan larva.
Pemanenan
Nauplius
Pemanenan nauplius di
PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya, yaitu sebagai berikut:
- Nauplius
didiamkan tanpa aerasi.
- Setelah
beberapa saat nauplius akan berenang di
permukaan.
Kemudian
dilakukan penyeseran dengan ukuran seser
250 mesh di dalam bak, sampai
nauplius yang ada di dalam bak habis.
Gambar 1. Pemanenan Nauplius
Manajemen
Pakan
Pemberian pakan buatan dengan dosis
tertentu diberikan sebanyak enam kali sehari dimulai saat stadia zoea satu.
Pakan disaring dengan menggunakan saringan yang sesuai dengan ukuran yang telah
ditentukan berdasarkan stadia larva, dilarutkan berkisar lima liter air tawar
dan saat pemberian pakan terhadap larva udang windu ditebar secara merata ke
seluruh penjuru bak pemeliharaan larva.
Pakan alami yang diberikan adalah
berupa Skeletonema costatum dan Artemia salina. Bahan-bahan yang dipelukan
untuk mengkultur Skeletonema costatum :
- Media
air dalam mengkultur plankton dialirkan ke bak kultur Skeletonema costatum.
- Bibit
yang digunakan sebaiknya mempunyai kepadatan tinggi, tidak mengandung lumut,
selnya yang panjang serta mempunyai bau yang khas.
- Pupuk
yang digunakan untuk mengkutur yakni NPK, Urea dan Silikat.
Pemanenan Skeletonema costatum
dilakukan dengan membuka kran air keluar (outlet) bak kultur dan dipasang
saringan khusus digunakan untuk menyaring plankton. Saringan yang digunakan
berukuran 100 mikron yang terbuat dari kain satin. Setelah itu ditampung dalam
ember plastik berkapasitas 20 liter dan siap diberikan kepada larva sesuai
dosis yang telah ditentukan.
Pakan Buatan diberikan pada stadia
zoea – post larva. Pakan buatan ini harus sesuai dengan bukaan mulut dan
perkembangan larva sehingga pakan buatan butuh disaring sebelum diberikan.
Manajemen
Kualitas Air
Air media sangat berperan dalam
kesuksesan usaha pembenihan udang windu. Kualitas air yang diobservasi antara
lain Suhu dan Salinitas. Suhu rata – rata pada siang hari berkisar 32 – 34oC
dan pada malam hari berkisar 27 – 30oC dan salinitas awal yakni 30 ppt.
Pengendalian
Hama dan Penyakit
Untuk mencegah timbulnya penyakit
maka dilakukan pengendalian dengan cara diberikan anti jamur treflan (0,5 ppm),
EDTA (7,5 ppm), dan El-Bacin (1 ppm) sebelum dilakukan penebaran nauplius.
Gambar 2. Pengendalian Hama dan
Penyakit
Kegiatan
Panen
Panen merupakan salah satu kegiatan
yang terakhir dari pemeliharaan, dimana pemanenan dilakukan saat udang memasuki
PL 8 – PL 9. Panen dilaksanakan pada pagi, sore, maupun malam hari.
Kegiatan
Pasca Panen
Sebelum benih dimasukkan ke dalam
plastik untuk pengepakan terlebih dahulu diseser agar menyatu dan siap takar
dengan menggunakan sendok takar. Perbandingan air dan oksigen adalah 1 : 2.
Setelah benur dipacking selanjutnya kantong-kantong plastik yang berisi benur
udang windu dimasukkan ke dalam karung kemudan diikat dibagian atasnya.
Pemasaran
Benur udang windu di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya dipasarkan di daerah Sulawesi Selatan, diantaranya Maros,
Pinrang, Barru, Pangkep, Bone, dan daerah yang lainnya. Untuk pengiriman ke
luar Provinsi contohnya ke Palu melalui Bandara Sultan Hasanuddin, pada pukul 6
pagi.
Tabel 2. Biaya Investasi di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya
No. Nama
Barang/Bangunan Harga (Rp)
1 Tanah 2.000.000.000,00
2 gedung 500.000.000,00
3 Bak
Tandon 70.000.000,00
4 Blower 225.000.000,00
5 Generator
Set 150.000.000,00
6 Pompa
air laut 2.000.000,00
7 Pompa
air tawar 450.000,00
8 Bak
pemeliharaan induk 45.000.000,00
9 Bak
peneluran dan penetasan 20.000.000,00
10 Bak
pemeliharaan larva 240.000.000,00
11 Bak
Skeletonema costatum 80.000.000,00
12 Bak
Fiber 8.000.000,00
13 Bak
Sand filter 10.000.000,00
14 Pompa
celup 2.100.000,00
15 Filter
Bag 525.000,00
Jumlah
3.353.075.000,00
Penerimaan/Output
Penerimaan (out put) adalah hasil
yang diperoleh sebagai akibat dari adanya biaya yang dikeluarkan.
Out Put = ............satuan x Rp............/satuan
Out Put = 18.000.000 ekor x Rp. 20,00/ekor = Rp 360.000.000,00
Biaya
(Input)
Biaya
Tetap (Fixed Cost/FC)
Biaya
sewa, misalnya sewa tanah dan bangunan
n/12 x Nilai sewa/tahun
1/12 x Rp.36.000.000,00 = Rp. 3.000.000,00
Penyusutan
alat tahan lama
Rumus = n/12 x (NB-NS)/N
Keterangan :
NB :
Nilai Baru (Rp)
NS :
Nilai Sisa (Rp) (yang dihitung NS = NB x 10%)
N :
Lamanya pemakaian (tahun)
n :
Lamanya satu periode (bulan)
Tabel 3. Nilai Penyusutan Bangunan
dan Alat Tahan Lama
No Nama
Alat NB (Rp) NS (Rp) N
(Tahun) Nilai Penyusutan
1 Bangunan/Gedung 500.000.000,00 50.000.000,00 15 2.500.000,00
2 Bak
tendon 70.000.000,00 7.000.000,00 15 350.000,00
3 Blower 225.000.000,00 22.500.000,00 5 3.375.000,00
4 Genset 150.000.000,00 15.000.000,00 8 1.406.250,00
5 Pompa
air laut 2.000.000,00 200.000,00 10 15.000,00
6 Pompa
air tawar 450.000,00 45.000,00 5 6.750,00
7 Bak
pemeliharaan induk 45.000.000,00 4.500.000,00 15 225.000,00
8 Bak
peneluran dan penetasan 20.000.000,00 2.000.000,00 15 100.000,00
9 Bak
pemeliharaan larva 240.000.000,00 24.000.000,00 15 1.200.000,00
10 Bak
skeletonema
costatum 80.000.000,00 8.000.000,00 15 400.000,00
11 Bak
fiber 8.000.000,00 800.000,00 5 120.000,00
12 Bak
filter 5.000.000,00 500.000,00 15 25.000,00
13 Pompa
celup 2.100.000,00 210.000,00,00 2 78.750,00
14 Filter
bag 525.000,00 52.500,00,00 2 20.000,00
Jumlah
9.821.750,00
Biaya
Tenaga Kerja Tetap
Rp......../bulan x
.........orang
Teknisi Larva 1 orang = Rp.2.000.000/bulan
= 1 bulan × Rp.2.000.000
= Rp.2.000.000
Teknisi Induk 1 orang = Rp.700.000/bulan
= 1 bulan × Rp.700.000
= Rp.700.000
Karyawan 2 orang = Rp.500.000/bulan
= 2 orang × Rp.500.000
= Rp.1.000.000
= 1 bulan × Rp1.000.000
= Rp.1.000.000
Quality control 1 orang = Rp.1.000.000
= 1 bulan × Rp.1.000.000
= Rp.1.000.000
Tukang masak 1 orang = Rp.500.000
= 1 bulan × Rp. 500.000 =
Rp.500.000
Biaya tenaga kerja tetap = Rp. 2.000.000 + Rp. 700.000 +
Rp. 500.000 + Rp. 1000.000 +
Rp. 1.000.000 + Rp.500.000
= Rp. 5.700.000
Pajak
Bumi dan Bangunan
n/12 x Nilai Pajak/tahun (Rp)
1/12 x Rp. 4.200.000,00 = Rp. 350.000,00
Bunga
Biaya Tetap
Bunga sewa tanah dan bangunan
n/12 x i x biaya sewa i : Suku
Bunga (%)
1/12 x 15% x Rp. 3.000.000,00 = Rp. 37.500,00
Bunga Modal Alat Tahan Lama
n/12 × 15% ×
(NB+NS)/2
Tabel 4. Bunga Modal Bangunan dan
Alat Tahan Lama
No Nama
Alat NB (Rp) NS (Rp) Bunga
Modal (Rp)
1 Bangunan/Gedung 500.000.000,00 50.000.000,00 3.437.500,00
2 Bak
tendon 70.000.000,00 7.000.000,00 481.250,00
3 Blower 225.000.0000,00 22.500.000,00 1.546.875,00
4 Genset 150.000.000,00 15.000.000,00 1.031.250,00
5 Pompa
air laut 2.000.000,00 200.000,00 13.750,00
6 Pompa
air tawar 450.000,00 45.000,00 3.094,00
7 Bak
pemeliharaan induk 45.000.000,00 4.500.000,00,00 309.375,00
8 Bak
peneluran dan penetasan 20.000.000,00 2.000.000,00 137.500,00
9 Bak
pemeliharaan larva 240.000.000,00 24.000.000,00 1.650.000,00
10 Bak
skeletonema costatum 80.000.000,00 8.000.000,00 550.000,00
11 Bak
Fiber 8.000.000,00 800.000,00 55.000,00
12 Bak
filter 5.000.000,00 500.000,00 34.375,00
13 Pompa
celup 2.100.000,00 210.000,00 14.438.00
14 Filter
bag 525.000,00 52.500,00 3.609,00
Jumlah 9.268.016,00
Bunga Gaji Tenaga Kerja Tetap
n/12 x i x biaya tenaga kerja
tetap
1/12 x 15% x Rp. 5.700.000,00 = Rp. 71.250,00
Bunga Pajak Iuran
n/12 x i x pajak bumi dan
bangunan
1/12 x 15% x Rp. 350.000,00 = Rp. 4.375,00
Jumlah bunga biaya tetap = (Rp. 37.500,00 + Rp. 9.268.016,00 +
Rp.
71.250,00 + Rp. 4.375,00) = Rp. 9.381.141,00
Total Biaya Tetap = Rp. 3.000.000,00
+ Rp. 9.821.750,00 + Rp. 5.700.000,00 + Rp. 350.000,00 + Rp. 9.381.141,00 = Rp.
28.252.891,00
Biaya
Variabel (Variabel Cost/VC)
Sarana
Produksi
Tabel 5. Sarana produksi
No Nama Jumlah Harga
persatuan (Rp) Total harga (Rp)
1 Induk
betina 145 ekor 250.000,00 36.250.000,00
2 Pakan
Induk 73 kg 80.000,00 5.834.500,00
3 Kantongan
Plastik Benur 20 pack 80.000,00 1.600.000,00
4 Oksigen 6 tabung 125.000,00 750.000,00
5 Karet
Gelang 8 kg 25.000,00 200.000,00
6 Sterofoam 20 buah 50.000,00 1.000.000,00
7 Karung 4 pack 100.000,00 400.000,00
No Nama Jumlah Harga
persatuan (Rp) Total harga (Rp)
8 Kapas 8 pack 75.000,00 600.000,00
9 Pakan
Buatan 16 kg 500.000,00 8.000.000,00
10 Artemia
(Mackay Marine) 40 kaleng 600.000,00 24.000.000,00
11 Obat-obatan 1000 gram 2.000,00 2.000.000,00
12 Pupuk
plankton 25 kg 20.000,00 500.000,00
13 Kaporit 15 kg 30.000,00 450.000,00
14 Tali
Rafia 2 pack 10.000,00 20.000,00
Jumlah
81.604.500,00
Biaya
Tenaga Kerja Tetap
Bonus Rp.
52.000.000,00
Biaya
Eksploitasi
Solar 80 liter @ Rp. 5.000,00 Rp.
400.000,00
Pemeliharaan dan perawatan
mesin/alat Rp. 1.000.000,00
+
Rp.
1.400.000,00
Biaya
lain-lain
Listrik perbulan Rp.
15.000.000,00
Transportasi Rp. 3.000.000,00
Alat Tulis kantor Rp.
200.000,00
Rp.
18.200.000,00
Bunga
Biaya Variabel
n/12
× i × █((Rp.81.604.500,00+Rp.52.000.000,00 +@ Rp. 1.400.000+Rp.
18.200.000,00))/2
= 1/12 × 15% ×
█((Rp.81.604.500,00+Rp.52.000.000,00 +@ Rp. 1.400.000+Rp.
18.200.000,00))/2
= 1/12 × 15% × Rp.
153.204.500,00
= Rp. 1.915.056,00
Keterangan :
n =
Lama dalam periode usaha (bulan)
i =
Suku bunga (%)
Total Biaya Variabel = (Rp.
81.604.500,00 + Rp. 52.000.000,00 + Rp. 1.400.000,00 + Rp. 18.200.000,00 + Rp.
1.915.056,00 =
Rp. 155.119.556,00
Biaya
Total (Total Cost/TC)
Rp. 28.252.891,00 + Rp.
155.119.556,25 = Rp. 183.372.447,00
Laba
Usaha (Income)
Income = Rp. 360.000.000,00 - Rp. 183.372.447,00 =
Rp. 176.627.553,00
Revenue
Cost Ratio (R/C)
Output/Biaya
=
(Rp. 360.000.000,00)/(Rp. 176.627.553,00)
= 2,04
Artinya setiap mengeluarkan biaya
Rp. 1,00 akan menghasilkan Rp. 2,04
Break
Event Point (BEP)
FC VC : Biaya Variabel
BEP =
FC : Biaya Tetap
VC S
: Volume penjualan
–
S
Rp. 28.252.891,00
BEP =
Rp.
155.119.556,00
1 –
Rp. 360.000.000,00
= Rp.
49.643.943,00
Artinya batas titik impas (Break
Event Point) dengan harga
Rp. 20/satuan akan tercapai
pada harga penjualan produk tercapai pada harga penjualan produk sebesar Rp.
49.643.943,00
Pay
Back Periode
Pay Back Periode = Investasi/Laba
(Rp. 3.353.075.000,00)/(Rp.
176.627.553,00) = 18,9838
Dengan keuntungan seperti tersebut
diatas maka investasi dalam waktu 19 periode usaha (dengan ketentuan apabila
hasilnya tidak bulat maka angka desimal dibelakang koma dibulatkan ke atas,
atau hasil yang diperoleh harus angka bulat).
BAB IV
MASALAH DAN PEMECAHAN
A. Masalah
Masalah selama melakukan PKL,
sebagai berikut :
- Listrik
PLN mati, sehingga berpengaruh terhadap benur yang dibudidayakan.
- Mesin
pompa air laut mengalami kerusakan.
- Kualitas
telur yang kadang kurang baik dihasilkan induk.
- Pemecahan
Masalah
Pemecahan masalah, diantaranya :
- Menghidupkan
Generator Set sebagai subtitusi listrik PLN.
- Mengganti
dengan pompa air laut yang baru.
- Melakukan
penanganan induk yang lebih baik dan hati-hati, sehingga induk dapat
menghasilkan telur yang berkulialitas.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil praktik kerja lapang di
Hatchery PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
- Persiapan
bak larva di PT. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya menggunakan beberapa tahapan, yakni pembersihan
bak dengan air tawar, penggosokan dan pengeringan bak. Bak pemeliharaan larva
sudah dipersiapkan sebaik mungkin sehingga mampu memenuhi kebutuhan bagi
kehidupan nauplius udang windu.
- Pengelolaan
pakan cukup bagus dengan pemilihan pakan alami dan pakan buatan sebagai makanan
larva udang windu. Pakan alami berupa Skeletonema costatum dan Artemia salina,
sedangkan pakan buatan menggunakan Flake, Fripak, Ultra Diet, dan GAP.
Pemberian pakannya sudah sesuai dengan dosis, waktu dan frekuensi yang tepat
sehingga tidak mempengaruhi kualitas air media pemeliharaan larva.
- Pengelolaan
kualitas air yang dilakukan berupa pengukuran hanya berdasarkan dua paremeter
kualitas air, yakni suhu dan salinitas menggunakan alat yang dinamakan
thermometer dan hand-refraktometer.
Saran
- Alat
pengecekan parameter kualitas air harus dilengkapi agar dapat mengontrol
parameter air lainnya selain hand-refraktometer dan thermometer.
- Dalam
proses pencucian sand filter seharusnya menggunakan oxaser untuk keseluruhan
pasir yang dicuci agar dalam penyaringan air laut lebih steril.
DAFTAR PUSTAKA
DKP.2009.Teknik Budidaya Air
Payau.www.dkp.go.id
Murtidjo.2003.Budidaya Udang
Windu.Aneka Ilmu.Semarang.
Narbuko dan Achmadi, A.2001.Metode
Penelitian.Jakarta.Bumi Aksara.