Laporan Prakerin Pembesaran Udang Vannamei

LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
“ PEMBESARAN UDANG VANNAMEI ”
( Litopenaeus vannamei )
DI BPBAPL
KARAWANG, JAWA BARAT
SMK negeri Cilebar


Disusun Oleh :
RAPIDI
NIS. 1213.048
PEMERINTAH KABUPATEN KARAWANG
DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI CILEBAR
2014
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI
JUDUL                                                :  Pembesaran Udang Vannamei  (Litopenaeus vannamei)
NAMA                                                :  RAPIDI
NIS                                                     :  1214.048
PROGRAM KEAHLIAN                    :  Agribisnis Perikanan
Laporan ini telah di setujui dan disahkan :
Cilebar,    Oktober  20014
Koordinator Kopetensi Keahlian                                                                    Pembinbing
Guru Kopetensi anda siapa                                                                  Guru Pembimbing anda siapa
    NIP.                                                                                                        NIP.
Mengetahui ;
Kepala Sekolah
Bidang Hubungan Industri
kepala sekolah anda siapa
NIP.

 

KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) dan menyusun laporan “ Pembesaran Udang Vannamei “ di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut ( BPBAPL ) Karawang Jawa Barat.
Laporan prakerin ini disusun berdasarkan hasil kegiatan praktik yang penulis laksanakan kurang lebih 3 bulan mulai tanggal 16 April 2013 sampai dengan tanggal 13 Juli 2013. Selama pelaksanaan praktik dan penyusunan laporan ini penulis banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mennyampaikan terima kasih kepada yang terhormat :

  • 1.      Rapidi hehehehhee Selaku Kepala Sekolah SMK Negeri Cilebar
  • 2.      Eri Donari, A.Pi, Selaku Kepala Balai BPBAPL Karawang
  • 3.      Arief Setiawan, S.Pi, Selaku Wakil Kepala Bidang Hubin
  • 4.      Sanusi, S.Pd, Selaku Ketua Pokja Prakerin
  • 5.      H. Ahmad Santoso, S.Pi, Selaku Ketua Jurusan Agribisnis Perikanan
  • 6.      Raskam Suparman, Selaku Pembimbing Lapangan
  • 7.      Ajas Supriyatna, S.Ag, Selaku Guru Pembimbing Laporan

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan yang perlu di sempurnakan oleh karena itu penulis berharap saran dan kritik membangun dari semua pihak sangat diperlukan. Semoga laporan ini dapat menambah pengetahian khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya serta memberi dorongan semangat dalam proses belajar mengajar.
                                                                                    Karawang,    Juli  2014
                                                                                               Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
    1.1. Latar Belakang
Udang Vannamei ( Litopenaeus vannamei ) merupakan salah satu jenis udang introduksi yang akhir – akhir ini banyak di minati, karna memiliki ke unggulan seperti tahan penyakit, pertumbuhannya cepat ( masa pemeliharaan 100 – 110 hari ), lintasan selama pemeliharaan tinggi dan nilai konversi pakan ( FCR – nya ) rendah ( 1:1:3 ), udang vannamei hanya dapat di budidayakan secara intensif. Anggapan tersebut ternyata tidaklah sepenuhnya benar, karena hasil kajian menunjukan bahwa vannamei juga dapat di produksi dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola tradisional petambak dapat menghasilkan ukuran panen yang lebih besar sehingga harga per kilogramnya menjadi lebih mahal. Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk pola intensif dan semi intensif, padahal luas areal pertambakan di Indonesia yang mencapai sekitar 360.000 ha, 80% digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi teknologi pola tradisional plus untuk budidaya udang vannamei sampai saat ini masih sangat terbatas. Diharapkan dengan adannya brosur ini dapat menambah wawasan pengguna dalam mengembangkan budidaya udang vannamei pola tradisional plus.
   1.2. Tujuan
     1.2.1.      Tujuan Praktek Kerja Industri
Praktek Kerja Industri merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian professional yang memudahkan secara sistematis dan sinkronisasi antara program di sekolah dengan penguasaan keahlian yang di peroleh melalui kerja langsung di dunia kerja.
      1.2.2.      Tujuan Pembuatan Laporan
Laporan prakerin ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Nasional ( UAN ), khususnya dalam kegiatan tingkat 3 ( tiga ), guna memenuhi tuntutan kurikulum pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Cilebar dalam Program Keahlian Agribisnis Perikanan tahun ajaran 2013 – 2014.
  1.3. Tempat Dan Waktu
Kegiatan Prakerin dilaksanakan dari tanggal 16 April 2013 sampai  dengan tanggal 13 Juli 2013, yang  bertempat di Balai  Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut ( BPBAPL ), Karawang Jawa Barat.
BAB II
KEADAAN UMUM LOKASI PRAKERIN
   2.1.  Sejarah Singkat BPBAPL Karawang
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut ( BPBAPL ) Karawang merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis Dinas ( UPTD ) di lingkungan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat. BPBAPL Karawang berdiri pada tahun 1975 dengan nama Unit Pembinaan Budidaya Air Payau ( UPBAP ), sebelum menjadi UPBAP Balai tambak Dinas Provinsi Jawa Barat yang di kelola oleh Dinas Perikanan Kabupaten Karawang. Pada masa kepemimpinan Ir. Miftah tahun 1975 sampai kepemimpinan Ir. Tien Hindasah tahun 1998, Balai ini merupakan basis dari semua penyuluh di 5 Kabupaten se-Jawa Barat.
Pada awal berdiinya Balai ini telah banyak mengalami pergantian kepemimpinan UPBAP diawali berdirinya sampai menjadi balai dipimpin oleh 5 kepala Unit diantarannya : Ir. Miftah ( 1975 – 1980 ), Tayeb Mustafa ( 1980 – 1984 ), Ir. Hery Herawan ( 1984 – 1990 ) dan terakhir oleh Ir. Tien Hindasah ( 1990 – 1998 ).
Selanjutnya pada tahun 1998 UPBAP yang dijabat oleh Tata Tamami, A.Pi dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau ( BPBAP ). Pada tahun 2002 BPBAP berubah menjadi BPBPLAPU sesuai dengan keputusan Gubernur Provinsi Jawa Barat Nomer 821.2/sk.806 G/Peg/2002 Tanggal 02 Juli 2002 tentang alih tugas/alih jabatan dilingkungan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, maka BPBAP berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang ( BPBPLAPU ) dengan status Eselon III. Sebagai salah satu Lembaga Pengkajian, Penerapan, dan Pengembangan Teknologi Perikanan Ikan Laut dan Payau, maka BPBPLAPU Karawang memiliki tugas pokok dan fungsi ( Tupoksi ) yang telah di tetapkan melalui surat keputusan Gubernur Profinsi Jawa Baray Nomr 45 Tahun 2002 tentang tugas pokok, fungsi dan rincian tugas Unit pelaksanaan teknis Dinas di Lingkungan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat.
Balai ini semenjak berubah menjad BPBPLAPU sampai sekarang telah 3 kali mengalami pergantian kepemimpinan : Ir. Ahmad Darmawan, BA dari tahun 2002 sampai tahun 2005, selanjutnya dipimpin lagi oleh Tata Tamami, A.Pi ( 2005 – 2007 ), dan Dede Suhendar, A.Pi ( 2007 -2013). Pada awalnya pada tahun 2010 telah mengalami perubahan Nomenclature yaitu dari BPBPLAPU menjadi BPBAPL ( Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut ). Dan pergantian pemimpin pada awal 2013 yaitu dipimpin oleh Eri Donari, A.Pi sampai sekarang.
BAB III
HASIL PRAKTIK
    3.1.  Morfologi Udang Vannamei
Bentuk tubuh yaitu terbagi menjadi tiga bagian antara lain : bagian kepala dan dada ( Cephalothorax ), badan ( Abdomen ) dan ekor. Sedangkan bagian – bagian tubuhnya terdiri dari rostrum, sepasang mata, sepasang  antenna, sepasang  antennele bagian  dalam dan luar, tiga  buah maxliped, lima  pasang kaki jalan ( Periopodas ) lima pasang  kaki  renang ( Pleopoda ), sepasang telson dan uropoda.
Udang vannamei mempunyai rostum yang mempunyai lengan pada bagian ujung Chepalothorax di atas mata dan antennele. Rostrum udang vanname mempunyai gigi bagian atas berjumlah 2 – 4 buah dan gigi bagian bawah berjumlah 5 – 8 buah yang panjang melebihi tangkal antennele karapasnya.
    3.2.  Taksonomi Udang Vannamei
Menurut Elovara ( 2001 ) taksonomi vannamei adalah sebagai berikut :
Phylum            :           Arthopoda
Class                :           Malacostraca
Ordo                :           Decapoda
Family             :           Penaeidae
Genus              :           Lito panaeus
Species            :           Litopenaeus vannamei
   3.1.2.  Kebiasaan dan Tingkahlaku Udang Vannamei
Sifat – sifat penting udang vannamei ( Litopenaeus vannamei ) menurut Haliman dan Adijaya ( 2005 ) adalah sebagai berikut :
  • §      Aktif  pada kondisi gelap ( Nocturnal )
  • §      Suka memangsa sesama jenis ( Kanibal )
  • §        Tipe pemakan lambat, tetapi terus menerus ( Continous feeder )
  • §        Menyukai hidup di dasar ( Bentik )
  • §       Mencari makan lewat sensor ( Hemorecptor )
  • §       Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar ( Euryhalyne )
  • *      Ganti Kulit ( Moulting )
Udang mempunyai kerangka luar yang keras ( tidak elastis ). Oleh karena itu, untuk tumbuh menjadi besar udang perlu membuang kulit lama dan menggantinya dengan kulit yang baru.

       3.2.  Kegiatan Yang Dilaksanakan
Kegiatan Pembesaran Udang Vannamei meliputi Persiapan tambak, Penebaran benur, Pemberian pakan, Sampling dan Panen. Petak tambak yang digunakan selama Praktek Kerja Industri adalah petak B4 dengan Luas tambak 28.. m2 komoditas Udang Vannamei.
1       1.      Persiapan Tambak
A. Pengangkutan Lumpur Dasar Tambak dan Pengeringan
Tambak udang yang sudah dipanen dapat digunakan kembali untuk budidaya siklus mendatang. Persiapan yang perlu dilakukan yaitu pembersian dan pengeringan dasar tambak dengan bantuan sinar matahari. Pembersian dilakukan dengan membuang lumpur hitam ( black mud )  dan sampah yang ada di dalam tambak. Pada tahap persiapan tambak dapat sekaligus di kerjakan renovasi tambak, seperti perbaikan kontruksi untuk tambak, pematang, pintu air, pemasangan plastic mulsa, pemasangan anco, dan sebagainya.
Setelah proses pengangkatan lumpur dilakukan pengeringan dasar tambak selama ± 1 minggu ( tergantung cuaca ). Pengeringan dasar tambak dilakukan sampai tanah terlihat retak hal tersebut menandakan bahwa sinar matahari mampu menembus lapisan tanah bagian dalam. Menurut Haliman dan Adi Jaya ( 2006 ), sinar matahari juga dapat berfungsi sebagai desinfektar, membantu prosen oksidasi yang dapat menetralkan sifat keasaman tanah, menghilangkan gas – gas beracun, dan membantu membunuh telur-telur hama yang tertinggal.
B.  Pengapuran
Pengapuran bertujuan untuk menaikan nilai pH tanah dasar tambak, menjadi 6,5 – 7 ( pH normal ). Apabila pH dibawah normal, kurang optimal dalam mendukung pertumbuhan udang. Kapur yang digunakan adalah kapur pertanian ( CaCO3 ) diberikan dengan cara ditebar rata kepermukaan dasar tambak sebanyak 500 kg. Hal tersebut sesuai dengan tingkat keasaman tanah pada petak tambak tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengisian air setinggi 30 cm. Tujuannya adalah agar sisa-sisa kapur pada dasar tambak larut dalam air, kemudian air dibuang dan dasar tambak diratakan.
C.  Pemasangan Kontruksi Tambahan
Kontruksi tambahan meliputi pemasangan tempat anco, saluran pemasukan air, saluran pengeluaran air, yang terbuang dari pipa paralon, pemasangan kincir air, dan lain lain. Tempat anco dibuat sebanyak 2 unit diletakan pada bagian yang tidak terlalu berpengaruh oleh arus kincir hal ini untuk menghindari hilangnya pakan yang ditebar di anco akibat perputaran gerakan arus kincir air.

D.  Pengisian Air
Pengisian air kedalam areal tambak dilakukan setelah persiapan tambak selesai. Pengisian air kedalam tambak mengalami beberapa filtrasi. Air bersumber dari laut masuk kedalam tendon pertama yang di tanami pohon mangrove berfungsi sebagai filter biologis kemudian air dialirkan ke tendon yang ke 2 yaitu kolam show window, di kolam show window terdapat ikan nila dan ikan bandeng sebagai pemakan organisme yang lebih kecil misalnya rebon. Dari kolam show window air kemudian dialirkan ke dalam inlet yang menggunakan mesin pompa air.
Selain sumber air laut, dalam budidaya udang vannamei di BPBAPL juga menggunakan sumber air tawar uantuk mennyeimbangkan salinitas dalam tambak. Sumber air tawar diperoleh dari mesin pompa air yang di pasang dekat dengan tambak vannamei. Pengisian air tawar dalam tambak dilakukan apabila salinitas dalam tambak tinggi, salinitas yang dipetahankan dalam budidaya udang ini adalah 5 – 8 ppt.
E.  Pemberantasan Hama
Dapat dilihat pada Tabel.1.
Hama
·         Kepiting Bakau (Scylla serrata)
·         Ular Kadut (Cereberus rhyncops)
Predator
·         Ikan Nila (Oreochromis nilotichus)
·         Ular Kadut (Cereberus rhyncops)
Kompetitor
·         Kepiting (Saesarina sp)
·         Ikan Bandeng (Chanos chanos)
·         Udang Liar (Cardina dentaculata)
( Tabel .1. Hama, Predator dan Kompetitor )

Pemberantasan hama pengganggu baik predator, maupun kompetitor menggunakan pestisida organic ataupun juga biasa disebut samponin yang berasal dari bungkil teh dengan dosis pemberian 40 kg/petak berukuran 2800 m2. Pemberian samponin dengan cara menyebar keseluruh bagian tambak yang sudah tergenang air sebelum ditebar, samponin diencerkan menggunakan air tambak sebanyak 100 liter. Ikan-ikan yang terkena samponin akan mati. Selain samponin untuk pemberantasan hama juga menggunakan betachin dengan dosis 10 liter/ha. Dan kaporit sebanyak 30 kg/petak berukuran 2800 m2. Selanjutnya kolam didiamkan smapai netral ± 7 – 10 hari sampai air kaporit hilang. Baru kolam siap tebar benur. 

.  Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menyediakan nutrisi dengan membutuhkan Phytoplanton bagi benur selama dibudidayakan ( Haliman dan Adi Jaya, 2005 ). Pupuk yang digunakan pada petak B4 adalah pupuk urea dengan dosis 5 gram/m2. Setelah dilakukan pemupukan tambak dibiarkan 3 – 5 hari sebelum penebarab benih.
      
    2.   Penabaran Benur
Penebaran benur dilakukan di pagi hari dan kualitas benur memiliki peranan penting pada keberhasilan udang vannamei, karena akan menentukan kualitas udang setelah di panen. Sebelum benur di tebar kedalam tambak. Perlu dilakukan aklimatisasi ( adaptasi ) terhadap lingkungan baru, baik aklimatisasi suhu maupun aklimatisasi salinitas. Aklimatisasi suhu dilakukan dengan cara membuka kantong plastik dari kardus dan diapungkan di dalam tambak ± 30 menit dalam keadaan kantong masih tertutup. Tindakan tersebut dilakukan hingga suhu air dalam kemasan plastic mendekati/sama dengan suhu air tambak yang dicirikan dengan munculnya embun didalam plastic kemasan.
Ikatan kantong plastic dibuka dan dimasukan 1 -2 liter air tambak dalam kemasan untuk mengadaptasi benur dengan salinitas tambak. Benur dalam kantong plastik yang sudah ditambahkan air tambak dikeluarkan dengan cara kantong plastik dibalik lalu dibiarkan benur keluar dengan sendirinnya dari dalam kantong. Sampling ulang benur dilakukan untuk mengetahui  jumlah benur yang tepat dengan menghitung 1 – 2 kantong untuk diambil jumlah rata-rata setiap kanttongnya. Jumlah benur yang ditebar padapetak B4 sebannyak 250.000 ekor dalam luas tambak 2800 m2.
   
  3.  Sampling Berat Udang Vannamei
Kegiatan sampling dilakukan sejak udang berumur 30 hari dan dilakukan rutin setiap 1 minggu. Bertujuan untuk menduga populasi udang di dalam petakan tambak, bobot udang serta untuk menghitung jumlah pemberian pakan selanjutnya, juga SR ( Survival rate ) kegiatan sampling dilakukan pada pagi hari dengan cara mengambil sampel udang dalam anco dari 2 sisi berbeda, selanjutnya udang di timbang serta di hitung jumlahnya. Untuk menghitung ukuran udang, bobot udang yang diperoleh dari hasil penimbangan dibagi dengan total jumlah udang yang di timbang.
4.  Pemberian Pakan
Udang yang baru ditebar diberi pakannya pada saat sore harinya, karena jika langsung diberi pakan setelah penebaran udang tidak akan memakannya karena belum menyesuaikan lingkungan barunnya. Jumlah pakan yang diberikan untuk benur berumur 1 – 8 hari dengan padat teber 250.000 ekor adalah 2,5 kg. diberikan 2 kali sehari yaitu pada pukul 07.00 dan pukul 16.00 WIB. Pada hari ke 9 sampai 18 hari jumlah pakan ditingkatkan menjadi 5 kg dengan 3 kali pemberian pakan. Frekuensi pemberian pakan pada udang yang berukuran kecil relative lebih sedikit karna masih mengandalkan pakan alami. Setelah terbiasa dengan pakan buatan berbentuk pellet, frekuensi pemberian pakan ditambah menjadi 4 – 5 kali sehari, ketika udang berumur 19 – 25 hari pakan mulai di tambah sebannyak 8 kg dan di berikan 4 kali sehari yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 16.00, 20.00 WIB hingga umur 81 hari, frekuensi pemberian pakan menjadi 4 kali sehari.
Dalam pemberian pakan dilakukan penambahan Vitamin C sebanyak 0,5 gr/kg pakan. Penggunaan Vitamin C dengan melarutkan Vitamin C dengan air 50 ml kemudian di campurkan kedalam pakan. Vitamin C diberikan setiap 1 kali sehari yaitu pada pagi hari sebagai imonostimulan pada udang vannamei.
5.   Pemanenan
Menurut Amri dan Iskandar ( 2008 ), bahwa pemanenan dilaksanakan setelah udang mencapai umur kurang lebih 120 hari, pemeliharaan di tambak, atau tergantung laju pertumbuhan udang. Apabila berat rata-rata ( ABW ) telah mencapai umur standar permintaan pasar ( ukuran 60 – 80 ekor/kg ) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum mencapai 100 hari. Alat yang digunakan dalam proses pemanenan adalah jaring badud, jaring sudu, jala lampung, bak fiber, timbangan, serokan, dan bahan lain yang dibutuhkan adalah air bersih dan es balok. Berikut adalah tahap-tahap pemanenan :
§  Pengurangan volume air dengan mesin pompa
§  Udang dijala menggunakan jala dan jarring sudu, setelah air surut menggunakan jarring badud
§  Udang yang sudah diperoleh dicuci dangan air bersih didalam bak fiber, kemudian dipindahkan ke bak fiber lain yang telah berisi air dan es batu untuk mempertahankan mutu udang
§  Apabila air sudah berkurang 50 % dapat dilakukan pengambilan udang baik dengan tangan maupun dengan jaring sudu
§  Setelah air petakan tambak sudah surut dan udang yang tersisa dapat diambil dengan menggunakan tangan, dan kemudian dapat segera dimasukan ke fiber berisi es, dan siap diangkut kedalam box-box untuk dipasarkan oleh tengkulak
    3.3.  Pembahasan
Di BPBAPL Karawang khususnya pada tambak A32 setiap melakukan pembesaran baik ikan nila, udang windu, udang galah, udang vannamei, ikan bandeng selalu gagal atau tidak sesuai yang diharapkan. Hal ini dikarenakan pada tambak A32 terdapat tumbuhan ganggang yang menjadi kendala dalam budidaya. Pada kolam B4 selain dipasang plastik mulsa pada pematang juga dipasang plastic cor untuk mencegah tumbuhnya ganggang. Tetapi tanpa diduga setelah pengisian air, plastic cor yang ada di dasar tambak robek karna tidak kuat menahan masuknya air dan itu membuat ganggang tumbuh, setiap harinnya ganggang tumbuh dan muncul di permukaan air karna terdorong oleh derasnya arus kincir yang ada di tambak. Ganggang yang muncul dipermukaan air diserok menggunakan seser panjang dan dibuang dipinggir pematang. Getah ganggang mengandung racun yang mengakibatkan kematian terhadap udang vannamei.
BAB IV
PENUTUP
    4.1.  Kesimpulan
Dari hasil Praktik Kerja Industri ( Prakerin ) yang penulis laksanakan dari mulai tanggal 16 April 2013 – 13 Juli 2013, di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau  dan Laut (  BPBAPL ) Karawang Jawa Barat, maka dapat disimpulkan :
  • Ø  Udang vannamei merupakan salah satu jenis udang industri yang akhir-akhir ini banyak diminati
  • Ø  Kunci keberhasilan budidaya udang vannamei secara intensif adalah melakukan persiapan dasar kolam dengan baik
  • Ø  Ukuran dan jumlah pakan yang diberikan harus dilakukan secara cermat dan tepat sehinga udang tidak mengalami kekurangan pakan ( Underfeeding ) atau kelebihan pakan ( Overfeeding ). Underfeeding dapat menyebabkan pertumbuhan menjadi lambat, ukuran tidak seragam, tubuh tampak keropos, dan timbul kanibalisme. Sementara overfeeding bisa menyebabkan air menjadi buruk
  • Ø  Getah yang terkandung dalam ganggang mengandung racun yang dapat menyebabkan kematian pada udang
    4.2.   Saran
Untuk pihak sekolah
  • Ø  Pengantar harus bertanggung jawab penuh terhadap tugasnya.
  • Ø  Diusahakan untuk mengantar, memonitoring dan menjemput dilaksanakan oleh guru pembimbing sehingga diketahui permasalahan yang terjadi dalam Praktik Kerja Industri yang dijalankan oleh siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Haliman, R.W dan Adi Jaya, D.S. 2005. Udang Vannamei. Penebaran Swadaya ;
Jakarta
Amri dan Iskandar. 2008. Budidaya Udang Vannamei.PT Central Pratiwi Bahari ;
Lampung
Elovara. 2001. Taksonomi Vannamei.