LAPORAN
PRAKTIK KERJA INDUSTRI
“
PEMBESARAN UDANG VANNAMEI ”
( Litopenaeus vannamei
)
DI
BPBAPL
KARAWANG,
JAWA BARAT
Disusun Oleh :
RAPIDI
NIS. 1213.048
PEMERINTAH
KABUPATEN KARAWANG
DINAS
PENDIDIKAN
SMK
NEGERI CILEBAR
2014
LEMBAR
PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
LAPORAN
PRAKTIK KERJA INDUSTRI
JUDUL : Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus
vannamei)
NAMA : RAPIDI
NIS :
1214.048
PROGRAM KEAHLIAN : Agribisnis Perikanan
Laporan
ini telah di setujui dan disahkan :
Cilebar, Oktober 20014
Koordinator Kopetensi Keahlian Pembinbing
Guru Kopetensi anda siapa Guru Pembimbing anda siapa
NIP. NIP.
Mengetahui
;
Kepala Sekolah
Bidang
Hubungan Industri
kepala sekolah anda siapa
NIP.
KATA
PENGANTAR
Penulis
memanjatkan puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah
sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) dan
menyusun laporan “ Pembesaran Udang Vannamei “ di Balai Pengembangan Budidaya
Air Payau dan Laut ( BPBAPL ) Karawang Jawa Barat.
Laporan
prakerin ini disusun berdasarkan hasil kegiatan praktik yang penulis laksanakan
kurang lebih 3 bulan mulai tanggal 16 April 2013 sampai dengan tanggal 13 Juli
2013. Selama pelaksanaan praktik dan penyusunan laporan ini penulis banyak
mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
mennyampaikan terima kasih kepada yang terhormat :
- 1. Rapidi hehehehhee Selaku Kepala Sekolah SMK Negeri Cilebar
- 2. Eri Donari, A.Pi, Selaku Kepala Balai BPBAPL Karawang
- 3. Arief Setiawan, S.Pi, Selaku Wakil Kepala Bidang Hubin
- 4. Sanusi, S.Pd, Selaku Ketua Pokja Prakerin
- 5. H. Ahmad Santoso, S.Pi, Selaku Ketua Jurusan Agribisnis Perikanan
- 6. Raskam Suparman, Selaku Pembimbing Lapangan
- 7. Ajas Supriyatna, S.Ag, Selaku Guru Pembimbing Laporan
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan yang perlu di sempurnakan
oleh karena itu penulis berharap saran dan kritik membangun dari semua pihak
sangat diperlukan. Semoga laporan ini dapat menambah pengetahian khususnya bagi
penulis dan bagi para pembaca pada umumnya serta memberi dorongan semangat
dalam proses belajar mengajar.
Karawang,
Juli
2014
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Udang
Vannamei ( Litopenaeus vannamei ) merupakan
salah satu jenis udang introduksi yang akhir – akhir ini banyak di minati,
karna memiliki ke unggulan seperti tahan penyakit, pertumbuhannya cepat ( masa
pemeliharaan 100 – 110 hari ), lintasan selama pemeliharaan tinggi dan nilai
konversi pakan ( FCR – nya ) rendah ( 1:1:3 ), udang vannamei hanya dapat di
budidayakan secara intensif. Anggapan tersebut ternyata tidaklah sepenuhnya
benar, karena hasil kajian menunjukan bahwa vannamei juga dapat di produksi
dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola tradisional petambak dapat
menghasilkan ukuran panen yang lebih besar sehingga harga per kilogramnya
menjadi lebih mahal. Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk pola intensif
dan semi intensif, padahal luas areal pertambakan di Indonesia yang mencapai
sekitar 360.000 ha, 80% digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi
teknologi pola tradisional plus untuk budidaya udang vannamei sampai saat ini
masih sangat terbatas. Diharapkan dengan adannya brosur ini dapat menambah
wawasan pengguna dalam mengembangkan budidaya udang vannamei pola tradisional
plus.
1.2.
Tujuan
1.2.1. Tujuan
Praktek Kerja Industri
Praktek
Kerja Industri merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian
professional yang memudahkan secara sistematis dan sinkronisasi antara program
di sekolah dengan penguasaan keahlian yang di peroleh melalui kerja langsung di
dunia kerja.
1.2.2. Tujuan
Pembuatan Laporan
Laporan
prakerin ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir
Nasional ( UAN ), khususnya dalam kegiatan tingkat 3 ( tiga ), guna memenuhi
tuntutan kurikulum pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Cilebar dalam
Program Keahlian Agribisnis Perikanan tahun ajaran 2013 – 2014.
1.3.
Tempat Dan Waktu
Kegiatan
Prakerin dilaksanakan dari tanggal 16 April 2013 sampai dengan tanggal 13 Juli 2013, yang bertempat di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (
BPBAPL ), Karawang Jawa Barat.
BAB II
KEADAAN UMUM
LOKASI PRAKERIN
2.1. Sejarah Singkat BPBAPL Karawang
Balai
Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut ( BPBAPL ) Karawang merupakan salah
satu Unit Pelaksanaan Teknis Dinas ( UPTD ) di lingkungan Dinas Perikanan
Provinsi Jawa Barat. BPBAPL Karawang berdiri pada tahun 1975 dengan nama Unit
Pembinaan Budidaya Air Payau ( UPBAP ), sebelum menjadi UPBAP Balai tambak
Dinas Provinsi Jawa Barat yang di kelola oleh Dinas Perikanan Kabupaten
Karawang. Pada masa kepemimpinan Ir. Miftah tahun 1975 sampai kepemimpinan Ir.
Tien Hindasah tahun 1998, Balai ini merupakan basis dari semua penyuluh di 5
Kabupaten se-Jawa Barat.
Pada
awal berdiinya Balai ini telah banyak mengalami pergantian kepemimpinan UPBAP
diawali berdirinya sampai menjadi balai dipimpin oleh 5 kepala Unit
diantarannya : Ir. Miftah ( 1975 – 1980 ), Tayeb Mustafa ( 1980 – 1984 ), Ir.
Hery Herawan ( 1984 – 1990 ) dan terakhir oleh Ir. Tien Hindasah ( 1990 – 1998
).
Selanjutnya
pada tahun 1998 UPBAP yang dijabat oleh Tata Tamami, A.Pi dari tahun 1998
sampai dengan tahun 2002 berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau
( BPBAP ). Pada tahun 2002 BPBAP berubah menjadi BPBPLAPU sesuai dengan
keputusan Gubernur Provinsi Jawa Barat Nomer 821.2/sk.806 G/Peg/2002 Tanggal 02
Juli 2002 tentang alih tugas/alih jabatan dilingkungan Dinas Perikanan dan
Kelautan Provinsi Jawa Barat, maka BPBAP berubah menjadi Balai Pengembangan
Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang ( BPBPLAPU ) dengan status Eselon
III. Sebagai salah satu Lembaga Pengkajian, Penerapan, dan Pengembangan
Teknologi Perikanan Ikan Laut dan Payau, maka BPBPLAPU Karawang memiliki tugas
pokok dan fungsi ( Tupoksi ) yang telah di tetapkan melalui surat keputusan
Gubernur Profinsi Jawa Baray Nomr 45 Tahun 2002 tentang tugas pokok, fungsi dan
rincian tugas Unit pelaksanaan teknis Dinas di Lingkungan Dinas Perikanan
Provinsi Jawa Barat.
Balai
ini semenjak berubah menjad BPBPLAPU sampai sekarang telah 3 kali mengalami
pergantian kepemimpinan : Ir. Ahmad Darmawan, BA dari tahun 2002 sampai tahun
2005, selanjutnya dipimpin lagi oleh Tata Tamami, A.Pi ( 2005 – 2007 ), dan
Dede Suhendar, A.Pi ( 2007 -2013). Pada awalnya pada tahun 2010 telah mengalami
perubahan Nomenclature yaitu dari BPBPLAPU menjadi BPBAPL ( Balai Pengembangan
Budidaya Air Payau dan Laut ). Dan pergantian pemimpin pada awal 2013 yaitu
dipimpin oleh Eri Donari, A.Pi sampai sekarang.
BAB III
HASIL PRAKTIK
3.1. Morfologi Udang Vannamei
Bentuk
tubuh yaitu terbagi menjadi tiga bagian antara lain : bagian kepala dan dada ( Cephalothorax ), badan ( Abdomen ) dan ekor. Sedangkan bagian –
bagian tubuhnya terdiri dari rostrum, sepasang mata, sepasang antenna, sepasang antennele bagian dalam dan luar, tiga buah maxliped, lima pasang kaki jalan ( Periopodas ) lima pasang
kaki renang ( Pleopoda ), sepasang telson dan uropoda.
Udang
vannamei mempunyai rostum yang mempunyai lengan pada bagian ujung Chepalothorax di atas mata dan
antennele. Rostrum udang vanname mempunyai gigi bagian atas berjumlah 2 – 4
buah dan gigi bagian bawah berjumlah 5 – 8 buah yang panjang melebihi tangkal
antennele karapasnya.
3.2. Taksonomi Udang Vannamei
Menurut
Elovara ( 2001 ) taksonomi vannamei adalah sebagai berikut :
Phylum : Arthopoda
Class : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Penaeidae
Genus : Lito
panaeus
Species : Litopenaeus vannamei
3.1.2. Kebiasaan dan Tingkahlaku Udang Vannamei
Sifat
– sifat penting udang vannamei (
Litopenaeus vannamei ) menurut Haliman dan Adijaya ( 2005 ) adalah sebagai
berikut :
- § Aktif pada kondisi gelap ( Nocturnal )
- § Suka memangsa sesama jenis ( Kanibal )
- § Tipe pemakan lambat, tetapi terus menerus ( Continous feeder )
- § Menyukai hidup di dasar ( Bentik )
- § Mencari makan lewat sensor ( Hemorecptor )
- § Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar ( Euryhalyne )
Ganti Kulit ( Moulting )
Udang
mempunyai kerangka luar yang keras ( tidak elastis ). Oleh karena itu, untuk
tumbuh menjadi besar udang perlu membuang kulit lama dan menggantinya dengan
kulit yang baru.
3.2. Kegiatan Yang Dilaksanakan
Kegiatan
Pembesaran Udang Vannamei meliputi Persiapan tambak, Penebaran benur, Pemberian
pakan, Sampling dan Panen. Petak tambak yang digunakan selama Praktek Kerja
Industri adalah petak B4 dengan Luas tambak 28.. m2 komoditas Udang
Vannamei.
1 1.
Persiapan Tambak
A. Pengangkutan Lumpur Dasar Tambak
dan Pengeringan
Tambak udang
yang sudah dipanen dapat digunakan kembali untuk budidaya siklus mendatang.
Persiapan yang perlu dilakukan yaitu pembersian dan pengeringan dasar tambak
dengan bantuan sinar matahari. Pembersian dilakukan dengan membuang lumpur
hitam ( black mud ) dan sampah yang ada di dalam tambak. Pada
tahap persiapan tambak dapat sekaligus di kerjakan renovasi tambak, seperti
perbaikan kontruksi untuk tambak, pematang, pintu air, pemasangan plastic
mulsa, pemasangan anco, dan sebagainya.
Setelah proses
pengangkatan lumpur dilakukan pengeringan dasar tambak selama ± 1 minggu (
tergantung cuaca ). Pengeringan dasar tambak dilakukan sampai tanah terlihat
retak hal tersebut menandakan bahwa sinar matahari mampu menembus lapisan tanah
bagian dalam. Menurut Haliman dan Adi Jaya ( 2006 ), sinar matahari juga dapat
berfungsi sebagai desinfektar, membantu prosen oksidasi yang dapat menetralkan
sifat keasaman tanah, menghilangkan gas – gas beracun, dan membantu membunuh
telur-telur hama yang tertinggal.
B.
Pengapuran
Pengapuran bertujuan untuk menaikan
nilai pH tanah dasar tambak, menjadi 6,5 – 7 ( pH normal ). Apabila pH dibawah
normal, kurang optimal dalam mendukung pertumbuhan udang. Kapur yang digunakan
adalah kapur pertanian ( CaCO3 ) diberikan dengan cara ditebar rata
kepermukaan dasar tambak sebanyak 500 kg. Hal tersebut sesuai dengan tingkat
keasaman tanah pada petak tambak tersebut. Selanjutnya, dilakukan pengisian air
setinggi 30 cm. Tujuannya adalah agar sisa-sisa kapur pada dasar tambak larut
dalam air, kemudian air dibuang dan dasar tambak diratakan.
C. Pemasangan
Kontruksi Tambahan
Kontruksi tambahan meliputi
pemasangan tempat anco, saluran pemasukan air, saluran pengeluaran air, yang
terbuang dari pipa paralon, pemasangan kincir air, dan lain lain. Tempat anco
dibuat sebanyak 2 unit diletakan pada bagian yang tidak terlalu berpengaruh
oleh arus kincir hal ini untuk menghindari hilangnya pakan yang ditebar di anco
akibat perputaran gerakan arus kincir air.
D. Pengisian Air
Pengisian air kedalam areal tambak
dilakukan setelah persiapan tambak selesai. Pengisian air kedalam tambak
mengalami beberapa filtrasi. Air bersumber dari laut masuk kedalam tendon
pertama yang di tanami pohon mangrove berfungsi sebagai filter biologis
kemudian air dialirkan ke tendon yang ke 2 yaitu kolam show window, di kolam show
window terdapat ikan nila dan ikan bandeng sebagai pemakan organisme yang
lebih kecil misalnya rebon. Dari kolam show
window air kemudian dialirkan ke dalam inlet yang menggunakan mesin pompa
air.
Selain sumber air laut, dalam
budidaya udang vannamei di BPBAPL juga menggunakan sumber air tawar uantuk
mennyeimbangkan salinitas dalam tambak. Sumber air tawar diperoleh dari mesin
pompa air yang di pasang dekat dengan tambak vannamei. Pengisian air tawar dalam
tambak dilakukan apabila salinitas dalam tambak tinggi, salinitas yang
dipetahankan dalam budidaya udang ini adalah 5 – 8 ppt.
E.
Pemberantasan Hama
Dapat dilihat pada Tabel.1.
Hama
|
·
Kepiting Bakau (Scylla serrata)
·
Ular Kadut (Cereberus rhyncops)
|
Predator
|
·
Ikan Nila (Oreochromis nilotichus)
·
Ular Kadut (Cereberus rhyncops)
|
Kompetitor
|
·
Kepiting (Saesarina sp)
·
Ikan Bandeng (Chanos chanos)
·
Udang Liar (Cardina dentaculata)
|
(
Tabel .1. Hama, Predator dan Kompetitor )
Pemberantasan hama pengganggu baik predator, maupun kompetitor menggunakan pestisida organic ataupun juga biasa disebut samponin yang berasal dari bungkil teh dengan dosis pemberian 40 kg/petak berukuran 2800 m2. Pemberian samponin dengan cara menyebar keseluruh bagian tambak yang sudah tergenang air sebelum ditebar, samponin diencerkan menggunakan air tambak sebanyak 100 liter. Ikan-ikan yang terkena samponin akan mati. Selain samponin untuk pemberantasan hama juga menggunakan betachin dengan dosis 10 liter/ha. Dan kaporit sebanyak 30 kg/petak berukuran 2800 m2. Selanjutnya kolam didiamkan smapai netral ± 7 – 10 hari sampai air kaporit hilang. Baru kolam siap tebar benur.
. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk
menyediakan nutrisi dengan membutuhkan Phytoplanton bagi benur selama
dibudidayakan ( Haliman dan Adi Jaya, 2005 ). Pupuk yang digunakan pada petak
B4 adalah pupuk urea dengan dosis 5 gram/m2. Setelah dilakukan
pemupukan tambak dibiarkan 3 – 5 hari sebelum penebarab benih.
2. Penabaran Benur
Penebaran benur dilakukan di pagi
hari dan kualitas benur memiliki peranan penting pada keberhasilan udang
vannamei, karena akan menentukan kualitas udang setelah di panen. Sebelum benur
di tebar kedalam tambak. Perlu dilakukan aklimatisasi ( adaptasi ) terhadap
lingkungan baru, baik aklimatisasi suhu maupun aklimatisasi salinitas.
Aklimatisasi suhu dilakukan dengan cara membuka kantong plastik dari kardus dan
diapungkan di dalam tambak ± 30 menit dalam keadaan kantong masih tertutup.
Tindakan tersebut dilakukan hingga suhu air dalam kemasan plastic
mendekati/sama dengan suhu air tambak yang dicirikan dengan munculnya embun
didalam plastic kemasan.
Ikatan kantong plastic dibuka dan
dimasukan 1 -2 liter air tambak dalam kemasan untuk mengadaptasi benur dengan
salinitas tambak. Benur dalam kantong plastik yang sudah ditambahkan air tambak
dikeluarkan dengan cara kantong plastik dibalik lalu dibiarkan benur keluar
dengan sendirinnya dari dalam kantong. Sampling ulang benur dilakukan untuk
mengetahui jumlah benur yang tepat
dengan menghitung 1 – 2 kantong untuk diambil jumlah rata-rata setiap
kanttongnya. Jumlah benur yang ditebar padapetak B4 sebannyak 250.000 ekor
dalam luas tambak 2800 m2.
3. Sampling Berat Udang Vannamei
Kegiatan sampling dilakukan sejak
udang berumur 30 hari dan dilakukan rutin setiap 1 minggu. Bertujuan untuk
menduga populasi udang di dalam petakan tambak, bobot udang serta untuk
menghitung jumlah pemberian pakan selanjutnya, juga SR ( Survival rate ) kegiatan sampling dilakukan pada pagi hari dengan
cara mengambil sampel udang dalam anco dari 2 sisi berbeda, selanjutnya udang
di timbang serta di hitung jumlahnya. Untuk menghitung ukuran udang, bobot
udang yang diperoleh dari hasil penimbangan dibagi dengan total jumlah udang
yang di timbang.
4.
Pemberian Pakan
Udang yang baru ditebar diberi
pakannya pada saat sore harinya, karena jika langsung diberi pakan setelah
penebaran udang tidak akan memakannya karena belum menyesuaikan lingkungan
barunnya. Jumlah pakan yang diberikan untuk benur berumur 1 – 8 hari dengan
padat teber 250.000 ekor adalah 2,5 kg. diberikan 2 kali sehari yaitu pada
pukul 07.00 dan pukul 16.00 WIB. Pada hari ke 9 sampai 18 hari jumlah pakan ditingkatkan
menjadi 5 kg dengan 3 kali pemberian pakan. Frekuensi pemberian pakan pada
udang yang berukuran kecil relative lebih sedikit karna masih mengandalkan
pakan alami. Setelah terbiasa dengan pakan buatan berbentuk pellet, frekuensi
pemberian pakan ditambah menjadi 4 – 5 kali sehari, ketika udang berumur 19 –
25 hari pakan mulai di tambah sebannyak 8 kg dan di berikan 4 kali sehari yaitu
pada pukul 07.00, 11.00, 16.00, 20.00 WIB hingga umur 81 hari, frekuensi
pemberian pakan menjadi 4 kali sehari.
Dalam pemberian pakan dilakukan
penambahan Vitamin C sebanyak 0,5 gr/kg pakan. Penggunaan Vitamin C dengan
melarutkan Vitamin C dengan air 50 ml kemudian di campurkan kedalam pakan.
Vitamin C diberikan setiap 1 kali sehari yaitu pada pagi hari sebagai
imonostimulan pada udang vannamei.
5.
Pemanenan
Menurut Amri dan Iskandar ( 2008 ),
bahwa pemanenan dilaksanakan setelah udang mencapai umur kurang lebih 120 hari,
pemeliharaan di tambak, atau tergantung laju pertumbuhan udang. Apabila berat
rata-rata ( ABW ) telah mencapai umur standar permintaan pasar ( ukuran 60 – 80
ekor/kg ) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum
mencapai 100 hari. Alat yang digunakan dalam proses pemanenan adalah jaring
badud, jaring sudu, jala lampung, bak fiber, timbangan, serokan, dan bahan lain
yang dibutuhkan adalah air bersih dan es balok. Berikut adalah tahap-tahap pemanenan
:
§ Pengurangan
volume air dengan mesin pompa
§ Udang
dijala menggunakan jala dan jarring sudu, setelah air surut menggunakan jarring
badud
§ Udang
yang sudah diperoleh dicuci dangan air bersih didalam bak fiber, kemudian
dipindahkan ke bak fiber lain yang telah berisi air dan es batu untuk
mempertahankan mutu udang
§ Apabila
air sudah berkurang 50 % dapat dilakukan pengambilan udang baik dengan tangan
maupun dengan jaring sudu
§ Setelah
air petakan tambak sudah surut dan udang yang tersisa dapat diambil dengan
menggunakan tangan, dan kemudian dapat segera dimasukan ke fiber berisi es, dan
siap diangkut kedalam box-box untuk dipasarkan oleh tengkulak
3.3.
Pembahasan
Di BPBAPL Karawang khususnya pada
tambak A32 setiap melakukan pembesaran baik ikan nila, udang windu, udang
galah, udang vannamei, ikan bandeng selalu gagal atau tidak sesuai yang
diharapkan. Hal ini dikarenakan pada tambak A32 terdapat tumbuhan ganggang yang
menjadi kendala dalam budidaya. Pada kolam B4 selain dipasang plastik mulsa
pada pematang juga dipasang plastic cor untuk mencegah tumbuhnya ganggang.
Tetapi tanpa diduga setelah pengisian air, plastic cor yang ada di dasar tambak
robek karna tidak kuat menahan masuknya air dan itu membuat ganggang tumbuh,
setiap harinnya ganggang tumbuh dan muncul di permukaan air karna terdorong
oleh derasnya arus kincir yang ada di tambak. Ganggang yang muncul dipermukaan
air diserok menggunakan seser panjang dan dibuang dipinggir pematang. Getah
ganggang mengandung racun yang mengakibatkan kematian terhadap udang vannamei.
BAB
IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari
hasil Praktik Kerja Industri ( Prakerin ) yang penulis laksanakan dari mulai
tanggal 16 April 2013 – 13 Juli 2013, di Balai Pengembangan Budidaya Air
Payau dan Laut ( BPBAPL ) Karawang Jawa Barat, maka dapat disimpulkan
:
- Ø Udang vannamei merupakan salah satu jenis udang industri yang akhir-akhir ini banyak diminati
- Ø Kunci keberhasilan budidaya udang vannamei secara intensif adalah melakukan persiapan dasar kolam dengan baik
- Ø Ukuran dan jumlah pakan yang diberikan harus dilakukan secara cermat dan tepat sehinga udang tidak mengalami kekurangan pakan ( Underfeeding ) atau kelebihan pakan ( Overfeeding ). Underfeeding dapat menyebabkan pertumbuhan menjadi lambat, ukuran tidak seragam, tubuh tampak keropos, dan timbul kanibalisme. Sementara overfeeding bisa menyebabkan air menjadi buruk
- Ø Getah yang terkandung dalam ganggang mengandung racun yang dapat menyebabkan kematian pada udang
4.2. Saran
Untuk
pihak sekolah
- Ø Pengantar harus bertanggung jawab penuh terhadap tugasnya.
- Ø Diusahakan untuk mengantar, memonitoring dan menjemput dilaksanakan oleh guru pembimbing sehingga diketahui permasalahan yang terjadi dalam Praktik Kerja Industri yang dijalankan oleh siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Haliman, R.W dan Adi
Jaya, D.S. 2005. Udang Vannamei. Penebaran
Swadaya ;
Jakarta
Amri dan Iskandar.
2008. Budidaya Udang Vannamei.PT
Central Pratiwi Bahari ;
Lampung
Elovara. 2001. Taksonomi Vannamei.
